DIAGRAM BINER

 PERCOBAAN II

DIAGRAM BINER


I. Tujuan 

Mencari suhu kelarutan kritis sistem biner fenol-air

II. Landasan Teori

    Relasi pada umumnya merupakan hubungan antara dua himpunan A,B berdasarkan aturan tertentu aturan tersebut dinamakan relasi biner relasi biner dinyatakan sebuah notasi  (A,B)  yang berarti himpunan A dihubungkan ke himpunan B oleh R himpunan A dapat disebut sebagai domain dari R dan himpunan B sebagai range dari R. pemetaan relasi yang penulis lakukan menggunakan dua metode yaitu diagram panah dan himpunan pasangan berurutan (Julaeha et al., 2020).

    Diagram pase biner sistem Partikel kecil yang terdiri dari fase cair dengan fase padat murni telah dievaluasi dari informasi energi gips dalam jumlah besar dan tegangan permukaan fase cair. Dengan mengecilnya ukuran partikel, titik leleh komponen murni menurun dan daerah fase cair membesar titik perubahan hubungan fase dengan ukuran partikel ini bergantung pada ketergantungan tegangan fase cair. untuk memahami pengaruh sifat permukaan pada hubungan fase, mengevaluasi diagram fase paduan biner dan dalam sisitem partikel kecil (Tanaka dan Hara,2022). 

   Larutan biner yang memiliki diagram fase cair/uap pada prinsipnya dapat dipisahkan menjadi komponennya menggunakan proses distilasi fraksional dengan perulangan yang cukup, distilasi akan mengandung komponen yang lebih polatil dengan kemurnian yang tinggi sedangkan residu akan dapat mengandung komponen yang kurang volatil dengan kemurnian tinggi titik dan perlu diingat bahwa diagram fase cair-uap dibangun dari campuran biner yang diasumsikan berlakuan sebagai larutan ideal titik tidak semua larutan biner mematuhi hukum roulet titik penyimpanan penyimpangan terhadap hukum roulet dapat dikenali dari kurva tekanan uap yang tidak linear terhadap dan perubahan komposisi kurva disebut tersebut memiliki titik maksimum (Hakim 2023).

III. Prosedur Percobaan

     3.1 Alat dan Bahan

           A.Alat  

        - Batang pengaduk

        - Batu didih 

        - Buret 50 ml 

        - Erlenmeyer 250 ml 

        - Gelas beker 100 ml 

        - Gelas ukur 50 ml 

        - Penangas 

        - Pipet tetes 

        - Termometer 100 C  

        B. Bahan

        - Aquades 

        - Fenol 9% 

IV. Skema Kerja

V. Hasil dan Pembahasan

    Temperatur kritis adalah suhu batas atas terjadinya pemisahan fasa di atas batas suhu atas kedua komponen justru bercampur temperatur ini terjadi karena agitasi termal yang lebih besar meningkat kan kemampuan bercampur kedua komponen, memungkinkan keduanya bercampur dalam semua perbandingan titik dan di atas temperatur ini kedua komponen membentuk dua fase. Contohnya adalah air dalam triety lamina. Dalam hal ini kedua komponen ini membentuk kompleks lemah dan oleh karena itu lebih mudah bercampur pada suhu yang lebih rendah titik suhu yang tinggi dapat menyebabkan Kompleks terurai yang yang selanjutnya mengganggu pencampuran komponen.

    Bila suatu zat yang terlarut ke dalam pelarut pada temperatur konstan t, pada permula hanya membentuk satu fase, sesudah titik a titik zat terlarut tidak larut. Tetapi membentuk lapisan lain sehingga terbentuk dua fasa sampai komponen B dicapai dan diperoleh satu fase lain. Dalam daerah antara a dan b ada dua fasa yang disebut larutan konjugat pada waktu yang bersamaan titik Bila temperatur ditingkatkan kelarutan juga berubah titik kelarutan meningkat dengan meningkatnya temperatur oleh dan di atas temperatur TC cairan-cairan dapat larut secara sempurna dan diperoleh satu fase. Temperatur, TC disebut temperatur larutan kritis dan disebut juga temperatur terlarut bagian atas.

    Sistem biner fenol air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat solubilitas timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap, solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut untuk larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan titik larutan hasil disebut larutan jenuh titik zat zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut titik pada sistem biner fenol air terdapat dua jenis campuran yaitu larutan 1 fase artinya larutan jernih setelah pemanasan dan larutan 2 fase artinya larutan keruh ketika ditambahkan dengan aquades sebelum pemanasan.

    Pada percobaan temperatur timbal balik, kelarutan fenol dalam air mengikuti kurva parabola berdasarkan kenaikan titik nol dengan perubahan suhu jauh di bawah suhu kritis ketika suhu pelarutan fenol saling melebihi 50 derajat Celcius komposisi larutan dari sistem larutan berubah titik kandungan fenolik pada air lapisan atas meningkat lebih dari 11,8% sedangkan kandungan fenolik pada air lapisan bawah menurun kurang dari 62,5% setelah suhu pelarut mencapai 66 derajat Celcius komposisi sistem larutan menjadi seimbang dan keduanya dapat tercampur rata sistem biner fenol cair adalah sistem dimana fenol dan air saling larut pada suhu dan tekanan tertentu 

Menurut penelitian yang dilakukan (Yuliani at al., 2022) mengenai pengaruh perbandingan TiO2 dan reduktor natrium bikarbonat terhadap pembentukan tipe fase natrium titanat mengatakan bahwa suhu dan rasio dapat mempengaruhi senyawa natrium titanat yang terbentuk. Semakin tinggi suhu yang digunakan maka akan semakin efektif senyawa natrium titanat yang terbentuk titik natrium Titana terbentuk pada suhu tertinggi pada keadaan stoikiometri berikut diagram fase biner yang menunjukkan kebutuhan Na2O yang akan digunakan sebagai reduktor panas dalam kurung proses. 

VI. Kesimpulan 
      Kesimpulan dan saran kesimpulan berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa suhu kelarutan kritis adalah suhu tertentu di mana suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu pada konsentrasi tertinggi yang memungkin menurut teori suhu kelarutan kritis sebesar 67,5C


Daftar Pustaka

Hakim, L. 2023. Termodinamika Kimia. Malang : UB Press.
Julaeha, S., N. Kustian dan D. Parulian. 2020. pemataan tabel relation ship dalam visualisasi diagram                     relasi untuk eksplorasi data pada database. STRING. Vol.5(2) : 126-133.
Tanaka, T dan S. Hara. 2022. Thermodynemic evaluation of binary phase diagrams of small particle                      system. international journal of materials research. vol. 7(1) : 1-5.   
Yuliani, r., s.Oidiani dan Suratman. 2022.pengaruh perbandingan TiO2 dan reduktor natrium bikarbonat                terhadap pembentukan tipe fasa natrium Titanat. jurnal metalurgi dan material. Vol. 5(1) : 001-              006. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

VOLUME MOLAR PARSIAL